SKRIPSI DIGITAL
Analisis Konsumsi Energi Spesifik pada PLTS 4,3 kWp dengan Beban Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) = Analysis of Specific Energy Consumption in a 4.3 kWp Solar Photovoltaic System with a Public Electric Vehicle Charging Station (SPKLU) Load
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) merupakan sumber energi terbarukan yang berpotensi mendukung kebutuhan energi listrik berkelanjutan pada infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Namun, tingginya radiasi matahari dapat meningkatkan temperatur kerja modul fotovoltaik sehingga menurunkan daya keluaran dan efisiensi konversi. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan kinerja energi sistem PLTS existing berkapasitas 4,3 kWp pada kondisi pendinginan pasif dan aktif, serta mengevaluasi dampaknya terhadap Konsumsi Energi Spesifik (KES) dan Cost of Electricity Production (Ce). Pengujian dilakukan secara langsung pada PLTS existing menggunakan konfigurasi pemipaan penukar panas logam yang sama di bawah panel surya. Pendinginan pasif menggunakan air statis, sedangkan pendinginan aktif menggunakan sirkulasi air dengan pompa otomatis dan kipas pendingin. Parameter yang dianalisis meliputi intensitas radiasi matahari, temperatur kerja, daya keluaran, energi listrik harian, efisiensi konversi, KES, dan Ce selama umur ekonomis sistem 25 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendinginan pasif menghasilkan kinerja energi yang lebih optimal dibandingkan pendinginan aktif. Sistem pasif menghasilkan daya keluaran sebesar 383,821 W, energi listrik harian 3,135 kWh, dan energi masuk baterai 2,861 kWh, dengan efisiensi keseluruhan 21,26%. Efisiensi tertinggi sebesar 25,44% diperoleh pada intensitas radiasi 600–699 W/m². Sementara itu, sistem aktif menghasilkan daya 302,434 W, energi harian 2,470 kWh, energi masuk baterai 2,339 kWh, dan efisiensi 18,74%. Rendahnya kinerja sistem aktif disebabkan pompa sirkulasi dan aliran fluida pendingin tidak bekerja optimal saat radiasi mencapai puncaknya sehingga terjadi overheating lokal. Berdasarkan parameter KES, sistem aktif memperoleh nilai lebih baik sebesar 1,057 dibandingkan sistem pasif sebesar 1,096, tetapi belum mampu mengompensasi penurunan daya keluarannya. Dari aspek ekonomi, sistem pasif menghasilkan Ce sebesar Rp8.593,93/kWh, lebih rendah dibandingkan sistem aktif sebesar Rp11.583,99/kWh akibat tambahan investasi dan biaya penggantian pompa serta kipas setiap lima tahun. Dengan demikian, pendinginan pasif menggunakan media air statis merupakan alternatif yang lebih optimal secara teknis dan ekonomis untuk mendukung operasional PLTS pada SPKLU.
Kata kunci: PLTS, SPKLU, pendinginan pasif dan aktif, konsumsi energi spesifik, Cost of Electricity Production
Tidak tersedia versi lain